Pramoedya Ananta Toer Quotes.

1. "Tak ada persiapan terlalu pagi"
- Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

2. "Sepandai-pandaimya lelaki, kata bujang nenekku dulu semasa aku masih sangat muda, kalau sedang gandrung: dia sungguh sebodoh-bodoh si tolol."
- Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

3. "Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir."
- Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

4. "Aku kira, setiap penulis yang jujur, akhir-kelaknya akan kecewa dan dikecewakan."
- Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

5. "Keajaiban pengetahuan: Tanpa mata yang melihat dia membikin orang mengetahui luasnya dunia: dan kayanya, dan kedalamannya, dan ketinggiannya, dan kandungannya, dan juga sampar-samparnya."
- Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

6. "Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana."
- Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

7. "A good author, Mr. Minke, should be able to provide his readers with some joy, not a false joy, but some faith that life is beautiful. While suffering is man-made, and not some natural disaster, then it can surely be resisted by men. Give hope to your readers, to your fellow countrymen."
- Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

8. "Kau benar, Minke, wujud dan wajah manusia itu tetap sama, tidak lebih baik daripada di jaman-jaman sebelumnya. Khotbah-khotbah di gereja juga memperingatkan itu berulang-ulang. Dia tetap tinggal makhluk yang tak tahu apa sesungguhnya dia kehendaki. Semakin sibuk orang mencari-cari dan menemukan, semakin jelas, bahwa dia sebenarnya diburu-buru oleh kegelisahan hati sendiri."
- Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

9. "Yang tak berdarah mati. Yang kekurangan darah lemah. Hanya yang berlumuran darah saja perkasa. Ada adinda dengar? Perkasa! Dan hanya si lemah berkubang dalam air matanya sendiri. (Tumenggung Mandraka)"
- Pramoedya Ananta Toer, Mangir

10. "Sering kulihat wanita dibebani barang bawaan cukup berat, menggendong, menyunggi, masih mendukung bocah, dan suaminya enak-enak jalan dengan berjual tampang hanya membawa tombak. Ait, terlalu. Pernah kutegur seorang diantara mereka, dan suaminya memang mau membantu. Tetapi pada kesempatan lain tetap juga membiarkan istrinya menjadi kuda beban. Kau tidak boleh begitu, Putih."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

  1.                                              Next Page