Perawan Dalam Cengkeraman Militer Quotes.

1. "Sering kulihat wanita dibebani barang bawaan cukup berat, menggendong, menyunggi, masih mendukung bocah, dan suaminya enak-enak jalan dengan berjual tampang hanya membawa tombak. Ait, terlalu. Pernah kutegur seorang diantara mereka, dan suaminya memang mau membantu. Tetapi pada kesempatan lain tetap juga membiarkan istrinya menjadi kuda beban. Kau tidak boleh begitu, Putih."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

2. "Mungkinkah seorang anak yang cengeng dalam perkembangannya barang dua puluh tahun kemudian bisa berubah jadi penentang dan pelawan? Bisa. Penderitaan tak tertanggungkan bisa mengakibatkan tiga macam sikap: menyerah tanpa syarat, melawan, atau membiarkan diri hancur. Mulyati memilih melawan."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

3. "Itulah dia, perempuan tua yang kau cari, wanita seperti ibumu, yang dilahirkan di pulau nenek-moyangnya, Jawa."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

4. "Doa dan ucapan selamat jalan diucapkan oleh mulut dan tangan yang kami jabat. Tak seorangpun mengucapkan terimakasih. Dan memang kami tidak menuntut, tidak membutuhkan. Sayang, kami belum mampu berbuat lebih dari ini."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

5. "Ia menyimpan dendam. Dendam yang terus menyala sebelum pembunuhan menutupnya. Dan dendam itu bisa menjalar jadi perang kampung."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

6. "Walau orang gunung kami tahu menghormat, tahu bagaimana sebaiknya menerima tamu. Ia akan mengambil celana untuk menghormati kami. (Orang-orang gunung ito bodo, tapi kase hormat. Yako punya hati ingin hormat) - Bambu, Seorang Alfuru Di Wai Loa"
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

7. "Adat kampung tidak membenarkan seorang anak menyebut nama orang tuanya selagi ia masih bergantung pada mereka - Pembicaraan Dengan Nait, Seorang Wanita Alfuru, Wai Lo"
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

8. "Bagaimanapun baik yang telah kalian peroleh dari kehidupan ini, masih ada saja yang kalian rasa kurang. Yang berada dalam kekurangan ingin terbebas dari kekurangan itu, ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah. Yang telah berada dalam kecukupan ingin lebih cukup lagi. Dari perasaan kurang itu, dari keinginan mendapatkan yang lebih baik itu, timbullah impian. Dan impian itu bisa menjadi padat, menjadi cita-cita. Dan cita-cita itu menjadi pola yang menjadi dasar dan petunjuk dari perbuatan."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

9. "Alam dan manusia telah membikinnya tidak brdaya dalam umur yang baru setengah abad. Sejak meninggalkan kampung halaman dan keluarga ia hanya mengenal penderitaan, tindasan, dan aniaya. Kami hanya dapat menangis dalam hati. Dan itupun tidak berguna. Orang-orang Jepang yang telah menindasnya sampai ia jadi begitu sekarang mungkin hidup senang di tengah keluargaya. Ya, sejak 1950, mungkin sudah sejak 1945."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

10. "Tak akan ada kampung sebersih ini di atas gunung kalau tak ada kerukunan di antara para penghuni."
- Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

  1.                                              Next Page

Browse By Letters